Senin, 25 Juni 2012

Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat

REPUBLIKA.CO.ID, Nama saya Christina Morra dan dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Saya mempunyai tiga saudara lelaki dan tiga saudara perempuan. Kami berhenti datang ke gereja ketika usia saya enam tahun. Kami percaya bahwa lebih baik membaca Injil di rumah karena kami tidak dapat menemukan gereja dengan doktrin  bisa kami patuhi, makanya lebih baik kami di rumah saja. Saya yakin bahwa sikap agamis keluargalah yang menyebabkan saya memeluk Islam. Saya juga yakin bahwa perjalanan menuju Islam bermula ketika saya baru lahir. Salah satu perkara yang saya pelajari dalam Islam ialah konsep fitrah. Artinya setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, bebas dari sebarang dosa. Oleh karenanya, kita bisa memanggil anak atau bayi sebagai Muslim.

Hanya ibu bapaknyalah yang mengajarnya untuk menjadi seorang Yahudi atau Kristen. Saya begitu tertarik sekali dengan kepercayaan Islam ini karena saya menyetujuinya sepenuh hati. Fakta menyebutkan bahwa Muslim berusaha untuk kembali dalam keadaan suci dan menjadi orang terbaik bisa menjadi benar pada pandangan saya.

Saya mulai mengenal Islam dari beberapa orang rekan Muslim saya di internet. Tidak semua teman saya Muslim, tetapi Alhamdulillah saya punya beberapa orang teman Muslim yang baik. Sebelumnya memang saya tidak mengetahui apa-apa. Hanya, saya teringat pada seorang Muslim yang bekerja dengan ayah saya. Waktu itu saya belajar mengucapkan "Assalamualaikum".
Saya tertarik dengan orang ini yang kelihatan lembut dan damai serta berpakaian serba putih. Perlahan-lahan saya baru bahwa memberi salam kepada anak-anak merupakan satu perbuatan baik.

Saya pernah menulis satu artikel berkaitan dengan kecenderungan dan minat saya untuk belajar tentang berbagai budaya dan kemanusiaan. Ketika itu saya belajar di sekolah tinggi. Artikel itu mendapat perhatian dari guru pembimbing kami. Guru bahasa Inggris saya turut memuji artikel tersebut. Ketika masa berlalu, hubungan saya dengan umat Islam juga semakin meningkat. Saya menjadi lebih tertarik untuk belajar mengenai Islam.

Ketika kuliah, saya mengambil mata kuliah agama. Sayangnya, materi yang disampaikan tidak banyak memberikan informasi tentang Islam. Saya merasa yang harus dipelajari adalah Islam. Oleh karena itu, saya mengambil mata kuliah Islam klasik. Saya juga turut belajar bahasa Persia karena begitu minat untuk mempelajari bahasa. Asik dengan minat yang saya geluti membuat saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah bidang arsitektur.

Teman baik saya, Ehsan, seorang yang saya kenal lewat internet, adalah teman baik untuk belajar Alquran. Saya banyak sekali menanyakan persoalan berkaitan Islam kepadanya. Dia datang dari Iran untuk menemui saya di Amerika. Kami bertemu di Texas. Saya juga bertemu dengan ramai warga Iran di sana.

Kemudian saya kembali ke universitas, pada saat itulah saya memasuki kelas Klasik Islam. Saya tetap melanjutkan pembahasan saya tentang Islam bersama Ehsan. Saya benar-benar puas hati dengan pembelajaran Islam saya. Karena saya mengambil studi bahasa. Bahasa Arab merupakan satu hal yang amat penting buat saya.

Saya juga mendapati bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, kita haruslah berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah. Melakukan perbuatan yang diridhai oleh-Nya. Walaupun secara alami kita bukanlah manusia sempurna dan tidak bisa menjamin diri sendiri untuk bisa masuk surga. Lalu mengapa harus menghukumi orang lain? Agama yang saya anut adalah sebuah agama dimana sebagai manusia biasa, kita diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertobat. Seorang pelacur bisa masuk surga karena memberi air pada seekor anjing, sebuah perbuatan yang kelihatan amat mudah tetapi diridhai Allah.

Kesimpulannya, Islam memberi jawaban atas segala persoalan yang menjadi tanda tanya bagi saya selama ini. Dahulu saya pernah terpikir memiliki agama yang sempurna. Saya percaya bahwa manusia harus memiliki agama, bahwa Tuhan berhubungan dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka. Saya menemui konsep tersebut dalam Islam, makanya saya bisa memberikan kepercayaan saya pada agama ini dan segala yang saya temukan adalah benar dan sempurna.

Tidak lama kemudian, saya pergi ke Texas dan Ehsan memberi dukungan untuk saya menyebutkan kalimat syahadah. Dia mengajarkan saya cara menunaikan shalat, sebelumnya saya sudah melihat dia menunaikan shalat. Shalat adalah sebuah manifestasi yang indah. Bagaimana pun saya masih berpendapat saya harus belajar lebih banyak lagi. Islam adalah sebuah agama yang luas dan saya ingin sekali memeluk agama Islam pada hari yang istimewa.

Ketika saya melakukan penerbangan dari Texas pulang ke Tennessee, pesawat yang saya naiki mengalami gangguan sebelum memulai penerbangan. Saya terpikir akan kematian yang bisa datang tiba-tiba. Jika saya mati menghadap Tuhan, saya belum juga menjadi seorang Muslimah. Saya tidak ingin perkara tersebut terjadi. Maka saya pun memikirkan untuk mengucap syahadat dan Allah SWT sebagai saksinya.

Kemudian, saya menyebut kembali kalimat syahadat di hadapan Ehsan sebagai saksi. Itu bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad Saw . Dahulu saya merasa bingung dengan masa depan saya, apa yang akan saya lakukan, apa akan jadi dengan diri saya. Ketika mengenang kembali hal tersebut, saya tahu bahwa sebenarnya saya belum menemui jalan yang membawa saya kepada Islam. Insya Allah Allah akan membimbing saya dan membuka jalan untuk saya mempelajari Islam sekarang dan disepanjang kehidupan saya, sehingga saya dapat pula mengembangkannya.

Alhamdulillah Islam sebenarnya adalah indah, jauh dari rasisme dan kebencian. Islam merupakan bimbingan sempurna yang dapat memenuhi keperluan individu dan masyarakat. Saya benar-benar percaya bahwa seseorang itu memerlukan Islam untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dan membentuk sebuah tempat yang lebih kokoh. Islam bukan untuk diperdebatkan dan mencari perhatian. Sejatinya, mengamalkan Islam dengan benar merupakan cara terbaik untuk semua manusia di alam sejagat ini. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang sedemikian dan insya Allah saya akan berusaha untuk menjadi orang seperti itu demi Allah.

source :

Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim

'Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.'

Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ''Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,'' kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.


Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.


Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ''Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,'' ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka'bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.

Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film tentang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ''Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,'' ungkapnya.


Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber - sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro - peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me - wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing - ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.


Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung - annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.


Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ''Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,'' ujarnya.


Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ''Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,'' ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala (RioL)

Share the article above (Bagikan artikel di atas)